Terlambat
“Dingin sekali.” Pikirnya sembari menarik selimut
dan menutupi seluruh badannya.
Tidak
bisa!
Sudah
10 menit ia mencoba untuk melanjutkan mimpinya tapi tidak bisa! Menatap jendela
besar di depannya, ia bangkit berdiri dan melangkah keluar. Meskipun udara
dingin menusuk, ia tetap membuka pintu dan berdiam di kursi luar kamarnya.
Angin malam yang menerpa membuat rambutnya tertiup ke belakang membuatnya
sedikit menggigil. Cahaya rembulan, beberapa lampu di kejauhan dan cahaya kunang-kunang
di kebun belakang. Hanya itu yang bisa ditangkap indra visualnya.
“Suka
nggak?” tanyanya penuh minat.
“Iya,
suka. Makasih ya, Ra!” Balas Didin. Tetangga sekaligus sahabat baik gadis berambut
hitam legam itu.
“Kalau liburan lagi, wajib bawa oleh-oleh!”
Sahut Didin.
“Hahaha..
Besok kalau liburan lagi, mending ikut aku aja.” Timpal Ara, sang empunya rambut hitam
legam tersebut penuh semangat.
“Enggak
tau deh. Kayaknya gak bisa.” Timpalnya. Raut murungnya nampak jelas. Tentu saja
ia senang, sayangnya ia tidak bisa.
“Kenapa?
Daripada sendirian di rumah kan, lebih baik ikut kita! Nanti, peralatan game
sama anak-anaknya bawa aja nggak apa-apa kok.” Bujuk gadis itu penuh perhatian.
Ia tahu temannya ini sering menghabiskan liburannya sendiri karena kesibukan
orang tuanya. Temannya ini jadi kerap bolos pelajaran bahkan sekolah.
“Daripada
bahas liburan yang mau rampung, bahas tahun ajaran baru aja kenapa, sih?”
rengeknya. Selalu begitu tiap kali Ara menelisik hidupnya. Menghindar,
mengalihkan, sampai Ara lupa.
Seperti
itulah Ara dan Didin. Berteman baik dari kecil hingga sekarang menginjak masa
SMA. Didin yang dikenal easy going
membuatnya memiliki banyak teman. Berbalikan dengan Didin, Ara selalu berada di
sekitar Didin. Ya, Ara sudah punya Didin, jadi ia tidak butuh yang lain lagi.
Meski begitu, Didin sama sekali tidak keberatan.
“Nduk, ngapain di luar malam-malam gini? Dingin kayak gini
juga. Masuk wae, nduk! Ndak malah masuk angin!” titah bapaknya melihat putri semata
wayangnya itu.
“Iya, Pak.” Suara ayahnya membuyarkan lamunanya. Bukannya
kembali tidur, ia justru mengambil buku dari laci meja nakasnya. Buku berwarna
biru itu mulai usang. Meski begitu, buku ini menyimpan banyak kenangan
tersimpan di dalamnya.
Ara
membuka buku biru itu. Seorang gadis kecil dengan rambut dikucir dua terlihat
merengut habis menangis sambil memegang balon dengan bocah laki-laki di
depannya. Pesta ulang tahun Didin ke 5 adalah kali pertama mereka bertemu.
Sampai akhirnya terdapat foto mereka masuk di SMA yang sama. Spontan Ara
menangis.
“Ajak
Didin ke kantin bareng, ah!” dengan langkah riangnya ia menuju ke kelas Didin.
Sudah tiga bulan mereka masuk ke tahun ajaran baru. Kini mereka kelas 12. Tidak
seperti tahun lalu, tahun ini mereka berbeda kelas. Ara pun segera masuk ke
kelas 12 D, kelas Didin.
“Didin,
ayo ke kantin!” ajak Ara sumringah.
“Aku nggak ke kantin. Ada kumpul basket.” Balasnya begitu
dingin.
Tak pernah seperti itu. Seumur-umur baru kali ini Didin
bersikap seperti itu. Ia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini Didin selalu
menghindarinya. Bahkan kebiasaan mereka untuk berangkat sekolah bersama tidak
pernah lagi sekarang. Hingga saat pulang sekolah, Ara melihat Didin di luar
gerbang sekolah.
“Didin mau pulang? Aku bareng ya!” pinta Ara.
“Nggak bisa, Ra. Aku udah janjian sama yang lain. Kamu
pulang sama temen-temenmu aja.” Tolaknya pada Ara. Ucapannya sedikit
mengejutkan gadis itu. Didin biasanya tidak keberatan. Ucapan Didin bahkan
menyadarkannya bahwa ia tidak punya teman selain Didin.
“Kamu masih belum mau pulang, Ra?” sergah Didin.
“Eh?”
“Udahlah, Ra. Kalau mau pulang, ya pulang aja. Masa ke
mana-mana musti sama aku, Ra? Kan nggak selamanya juga kamu bisa ngikutin aku
terus? Nggak usah temenan aja kalau gini caranya, Ra.” Balasnya ketus sambil
meninggalkan Ara di gerbang sekolah. Spontan Ara menangis. Pulang bersama
kesedihan dan kekecewaan.
Dua minggu berlalu Ara tidak pernah mengunjungi kelas Didin
lagi. Ia hanya tidak ingin temannya itu bad
mood melihatnya setelah apa yang dikatakan terakhir kali. Namun bagaimana
pun juga, Didin adalah teman baiknya. Tentu ia tidak dapat membiarkan
persahabatan yang sudah terjalin lama berakhir begitu saja.
“Mungkin memang aku yang salah.” Pikirnya sembari menuju
kelas 12 D.
Sayangnya, Ara tak dapat menemukan yang dicari-carinya itu.
Sampai pulang sekolah dan dicari ke manapun tak ketemu. Hal ini memaksanya
pergi ke rumah Edo, salah satu teman baik Didin.
Tok tok tok..
“Ya?” Edo tampak
terkejut melihat Ara.
“Hai, Do.” Sapa Ara lembut.
“Ah, h-hai juga. Mau masuk?” balas Edo sedikit gugup.
“Nggak usah. Cuma sebentar kok. Kamu tau nggak Didin lagi
di mana? Didin temenmu juga kan, Do?” balas Ara langsung to the point.
“Mm, D-Didin mungkin lagi les.” Balas Edo sekedarnya.
”Nggak mungkin, Do. Didin nggak pernah les. Sekolah aja
sering bolos ya, kan?” timpal Ara.
“Nggak usah kayak sembunyi-sembunyi gitu, Do. Emang aku
polisi?” Candanya pada orang yang pernah menjadi teman sekelasnya itu.
Edo gugup. Ia tidak tahu harus bagaimana. Disatu pihak
Didin adalah teman baik yang selalu mendukungnya, jadi ia harus membantunya. Dilain
pihak, Ara juga sahabat Didin yang mau tidak mau harus tahu.
“Mm, Ra. Inget waktu Didin marah-marah di depan gerbang
sekolah itu, nggak?” tanya Edo berhati-hati. Sekilas Ara mengingat saat Didin
membentaknya dan tidak mau jadi temannya lagi. Spontan ia sedih lagi.
“Makanya, aku mau nyari Didin.” Balasnya.
“Sebenernya Didin itu, Didin kayak gitu biar kamu bisa cari
temen yang lain, Ra.” Balas Edo.
“Tapi selama ada Didin aku nggak apa-apa kok.”
“Tapi Didin nggak bisa selamanya juga, Ra.” Mukanya mulai
merah menahan emosinya yang mulai memuncak.
“Maksudnya?” Tanya Ara. Sungguh, ia tidak paham. Ara
teringat saat Didin juga menyinggung soal ia tidak bisa selamanya mengikuti
Didin ke mana-mana. Menghela napas, Edo menjelaskan semuanya pada Ara.
Sontak,
Ara bergegas lari. Langkahnya terburu-buru mendengar penjelasan Edo. Ponsel di
sakunya berdering tak dihiraukannya. Ponsel itu terus berdering hingga ia
memberhentikan langkahnya. Cepat-cepat ia merogoh sakunya. Tertera nama ‘Ibu’
di layar ponselnya.
“Halo,
bu.” Salamnya pada ibunya.
“Ra,
kamu di mana sekarang? Kamu bisa pulang sekarang, Nduk?” pinta ibunya sedikit
mendesak.
“Nggak
bisa, Bu. Aku mau.. “
“Didin
meninggal, Ra.” Potong ibunya dengan cepat. Bagai petir disiang bolong, begitu
mengejutkan perkataan ibunya itu. Perasaannya campur aduk.
“Masa
sih? Tiba-tiba sekali. Apa ibu berbohong?” pikirnya sembari berjalan pulang.
Perasaannya kacau hanya bisa menangis.
“Rumah
Didin ramai sekali,” pikirnya. Ia semakin menangis dan berlari pulang. Wanita muda
itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Tak percaya pada penjelasan
ibunya maupun Edo.
“Didiiiiinnnnn!”
Tiba-tiba ia seperti memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian
hilang ditelan parau. Ingatannya kembali pada perkataan Edo.
“Didin sakit
keras, Ra. Sebenarnya Didin sakit kanker, tapi Didin nggak mau kasih tahu kamu.
Makanya Didin kayak gitu biar kamu tetep ada temen walau Didin udah nggak ada,
Ra.”
Waktu
berlalu dengan cepat. Besok adalah hari peringatan setahun sahabatnya itu
berpulang. Kini hanya ada penyesalan dalam diri gadis itu. Menyesali tidak ada
bersama temannya menjelang akhir. Ia menutup buku itu dan mengembalikannya.
Angin malam
berhembus masuk ke kamarnya, membuat menggigil lagi. Bagaimana ia tidak
berpikir sejauh itu. Mengapa Didin tak mau pergi tiap kali mengajaknya? Mengapa
ia kerap bolos sekolah? Maupun saat
liburan ia hanya di rumah.
Kenapa Didin
membentaknya kala itu? Ya, sekarang Ara mengetahui itu semua. Ara baru
menyadari itu semua ketika sudah terlambat.