Jumat, 30 Desember 2016

Ujian Praktik Bahasa Indonesia: Cerpen



Terlambat


 “Dingin sekali.” Pikirnya sembari menarik selimut dan menutupi seluruh badannya.
Tidak bisa!
Sudah 10 menit ia mencoba untuk melanjutkan mimpinya tapi tidak bisa! Menatap jendela besar di depannya, ia bangkit berdiri dan melangkah keluar. Meskipun udara dingin menusuk, ia tetap membuka pintu dan berdiam di kursi luar kamarnya. Angin malam yang menerpa membuat rambutnya tertiup ke belakang membuatnya sedikit menggigil. Cahaya rembulan, beberapa lampu di kejauhan dan cahaya kunang-kunang di kebun belakang. Hanya itu yang bisa ditangkap indra visualnya.
“Suka nggak?” tanyanya penuh minat.
“Iya, suka. Makasih ya, Ra!” Balas Didin. Tetangga sekaligus sahabat baik gadis berambut hitam legam itu.
 “Kalau liburan lagi, wajib bawa oleh-oleh!” Sahut Didin.
“Hahaha.. Besok kalau liburan lagi, mending ikut aku  aja.” Timpal Ara, sang empunya rambut hitam legam tersebut penuh semangat.
“Enggak tau deh. Kayaknya gak bisa.” Timpalnya. Raut murungnya nampak jelas. Tentu saja ia senang, sayangnya ia tidak bisa.
“Kenapa? Daripada sendirian di rumah kan, lebih baik ikut kita! Nanti, peralatan game sama anak-anaknya bawa aja nggak apa-apa kok.” Bujuk gadis itu penuh perhatian. Ia tahu temannya ini sering menghabiskan liburannya sendiri karena kesibukan orang tuanya. Temannya ini jadi kerap bolos pelajaran bahkan sekolah.
“Daripada bahas liburan yang mau rampung, bahas tahun ajaran baru aja kenapa, sih?” rengeknya. Selalu begitu tiap kali Ara menelisik hidupnya. Menghindar, mengalihkan, sampai Ara lupa.
Seperti itulah Ara dan Didin. Berteman baik dari kecil hingga sekarang menginjak masa SMA. Didin yang dikenal easy going membuatnya memiliki banyak teman. Berbalikan dengan Didin, Ara selalu berada di sekitar Didin. Ya, Ara sudah punya Didin, jadi ia tidak butuh yang lain lagi. Meski begitu, Didin sama sekali tidak keberatan.
          “Nduk, ngapain di luar malam-malam gini? Dingin kayak gini juga. Masuk wae, nduk! Ndak malah masuk angin!” titah bapaknya melihat putri semata wayangnya itu.
          “Iya, Pak.” Suara ayahnya membuyarkan lamunanya. Bukannya kembali tidur, ia justru mengambil buku dari laci meja nakasnya. Buku berwarna biru itu mulai usang. Meski begitu, buku ini menyimpan banyak kenangan tersimpan di dalamnya.
Ara membuka buku biru itu. Seorang gadis kecil dengan rambut dikucir dua terlihat merengut habis menangis sambil memegang balon dengan bocah laki-laki di depannya. Pesta ulang tahun Didin ke 5 adalah kali pertama mereka bertemu. Sampai akhirnya terdapat foto mereka masuk di SMA yang sama. Spontan Ara menangis.
“Ajak Didin ke kantin bareng, ah!” dengan langkah riangnya ia menuju ke kelas Didin. Sudah tiga bulan mereka masuk ke tahun ajaran baru. Kini mereka kelas 12. Tidak seperti tahun lalu, tahun ini mereka berbeda kelas. Ara pun segera masuk ke kelas 12 D, kelas Didin.
“Didin, ayo ke kantin!” ajak Ara sumringah.
          “Aku nggak ke kantin. Ada kumpul basket.” Balasnya begitu dingin.
          Tak pernah seperti itu. Seumur-umur baru kali ini Didin bersikap seperti itu. Ia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini Didin selalu menghindarinya. Bahkan kebiasaan mereka untuk berangkat sekolah bersama tidak pernah lagi sekarang. Hingga saat pulang sekolah, Ara melihat Didin di luar gerbang sekolah.
          “Didin mau pulang? Aku bareng ya!” pinta Ara.
          “Nggak bisa, Ra. Aku udah janjian sama yang lain. Kamu pulang sama temen-temenmu aja.” Tolaknya pada Ara. Ucapannya sedikit mengejutkan gadis itu. Didin biasanya tidak keberatan. Ucapan Didin bahkan menyadarkannya bahwa ia tidak punya teman selain Didin.
          “Kamu masih belum mau pulang, Ra?” sergah Didin.
          “Eh?”
          “Udahlah, Ra. Kalau mau pulang, ya pulang aja. Masa ke mana-mana musti sama aku, Ra? Kan nggak selamanya juga kamu bisa ngikutin aku terus? Nggak usah temenan aja kalau gini caranya, Ra.” Balasnya ketus sambil meninggalkan Ara di gerbang sekolah. Spontan Ara menangis. Pulang bersama kesedihan dan kekecewaan.
          Dua minggu berlalu Ara tidak pernah mengunjungi kelas Didin lagi. Ia hanya tidak ingin temannya itu bad mood melihatnya setelah apa yang dikatakan terakhir kali. Namun bagaimana pun juga, Didin adalah teman baiknya. Tentu ia tidak dapat membiarkan persahabatan yang sudah terjalin lama berakhir begitu saja.
          “Mungkin memang aku yang salah.” Pikirnya sembari menuju kelas 12 D.
          Sayangnya, Ara tak dapat menemukan yang dicari-carinya itu. Sampai pulang sekolah dan dicari ke manapun tak ketemu. Hal ini memaksanya pergi ke rumah Edo, salah satu teman baik Didin.
          Tok tok tok..
          “Ya?” Edo tampak terkejut melihat Ara.
          “Hai, Do.” Sapa Ara lembut.
          “Ah, h-hai juga. Mau masuk?” balas Edo sedikit gugup.
          “Nggak usah. Cuma sebentar kok. Kamu tau nggak Didin lagi di mana? Didin temenmu juga kan, Do?” balas Ara langsung to the point.
          “Mm, D-Didin mungkin lagi les.” Balas Edo sekedarnya.
          ”Nggak mungkin, Do. Didin nggak pernah les. Sekolah aja sering bolos ya, kan?” timpal Ara.
          “Nggak usah kayak sembunyi-sembunyi gitu, Do. Emang aku polisi?” Candanya pada orang yang pernah menjadi teman sekelasnya itu.
          Edo gugup. Ia tidak tahu harus bagaimana. Disatu pihak Didin adalah teman baik yang selalu mendukungnya, jadi ia harus membantunya. Dilain pihak, Ara juga sahabat Didin yang mau tidak mau harus tahu.
          “Mm, Ra. Inget waktu Didin marah-marah di depan gerbang sekolah itu, nggak?” tanya Edo berhati-hati. Sekilas Ara mengingat saat Didin membentaknya dan tidak mau jadi temannya lagi. Spontan ia sedih lagi.
          “Makanya, aku mau nyari Didin.” Balasnya.
          “Sebenernya Didin itu, Didin kayak gitu biar kamu bisa cari temen yang lain, Ra.” Balas Edo.
          “Tapi selama ada Didin aku nggak apa-apa kok.”
          “Tapi Didin nggak bisa selamanya juga, Ra.” Mukanya mulai merah menahan emosinya yang mulai memuncak.
          “Maksudnya?” Tanya Ara. Sungguh, ia tidak paham. Ara teringat saat Didin juga menyinggung soal ia tidak bisa selamanya mengikuti Didin ke mana-mana. Menghela napas, Edo menjelaskan semuanya pada Ara.
Sontak, Ara bergegas lari. Langkahnya terburu-buru mendengar penjelasan Edo. Ponsel di sakunya berdering tak dihiraukannya. Ponsel itu terus berdering hingga ia memberhentikan langkahnya. Cepat-cepat ia merogoh sakunya. Tertera nama ‘Ibu’ di layar ponselnya.
“Halo, bu.” Salamnya pada ibunya.
“Ra, kamu di mana sekarang? Kamu bisa pulang sekarang, Nduk?” pinta ibunya sedikit mendesak.
“Nggak bisa, Bu. Aku mau.. “
“Didin meninggal, Ra.” Potong ibunya dengan cepat. Bagai petir disiang bolong, begitu mengejutkan perkataan ibunya itu. Perasaannya campur aduk.
“Masa sih? Tiba-tiba sekali. Apa ibu berbohong?” pikirnya sembari berjalan pulang. Perasaannya kacau hanya bisa menangis.
“Rumah Didin ramai sekali,” pikirnya. Ia semakin menangis dan berlari pulang. Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Tak percaya pada penjelasan ibunya maupun Edo.
“Didiiiiinnnnn!” Tiba-tiba ia seperti memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau. Ingatannya kembali pada perkataan Edo.
“Didin sakit keras, Ra. Sebenarnya Didin sakit kanker, tapi Didin nggak mau kasih tahu kamu. Makanya Didin kayak gitu biar kamu tetep ada temen walau Didin udah nggak ada, Ra.”
Waktu berlalu dengan cepat. Besok adalah hari peringatan setahun sahabatnya itu berpulang. Kini hanya ada penyesalan dalam diri gadis itu. Menyesali tidak ada bersama temannya menjelang akhir. Ia menutup buku itu dan mengembalikannya.
Angin malam berhembus masuk ke kamarnya, membuat menggigil lagi. Bagaimana ia tidak berpikir sejauh itu. Mengapa Didin tak mau pergi tiap kali mengajaknya? Mengapa ia kerap bolos sekolah?  Maupun saat liburan ia hanya di rumah.
Kenapa Didin membentaknya kala itu? Ya, sekarang Ara mengetahui itu semua. Ara baru menyadari itu semua ketika sudah terlambat.
         

Kamis, 24 November 2016

Tugas Iklan

IKLAN



         Iklan merupakan informasi yang berisi bujukan ditujukan pada khalayak banyak atau publik supaya tertarik kepada barang atau jasa yang ditawarkan. Terdapat berbagai jenis iklan saat ini dan sering kita jumpai di tempat umum maupun di internet sekalipun.
        Dalam ulasan ini jenis iklan yang digunakan adalah iklan layanan masyarakat. Iklan layanan masyarakat sendiri merupakan iklan yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan mangajak atau menghimbau untuk tidak atau melakukan sesuatu. Iklan yang ditampilkan dalam ulasan ini juga merupakan jenis iklan display. Dimana biasanya, ukuran ini lebih besar dari iklan kolom dan juga tulisannya besar serta disertai gambar.



 Makna dari iklan di atas sebagai berikut:


1. Gradasi warna biru

    Menggambarkan tentang lautan mulai dari dasar yang gelap hingga permukaannya yang semakin        terang.
2. Terumbu karang
    Menggambarkan kehidupan laut. Salah satunya terumbu karang sebagai tempat hidup biota laut           lainnya.
3. Gambar plastik dan botol kaca
    Menggambarkan sampah yang dibuang masyarakat secara sembarangan (seperti sungai, muara,           dll) yang akhirnya hanyut sampai laut.
4. Tulisan berwarna hitam
    Bermakna menegaskan.
5. Tulisan berwarna merah
    Bermakna resiko, perhatian,dan bahaya.

Tugas Biografi



MALAIKAT YANG DISEBUT IBU



Keberhasilan yang didapatkan oleh seorang anak tentu tidak dapat lepas dari perjuangan keras dari kedua orang tuanya. Terutama sosok seorang ibu yang telah melahirkan kita. Peranan ibu dalam kehidupan setiap insan manusia sangatlah luar biasa. Perjuangannya, pengorbanannya, dicurahkan kepada keluarganya terutama pada anak-anaknya. Wanita yang satu inipun juga demikian. Beliau sungguh luar biasa dalam hidup keluarga dan anak-anaknya.
Mariana Dwi Rahayu adalah seorang ibu dan wanita karier. Beliau merupakan anak kedua dari pasangan Bapak Boenyamin dan Ibu Tuginah yang lahir di Magelang, 1 April 1971. Beliau bersama keluarganya tinggal di Kebonpolo, Wates, Magelang.
Pendidikannya diawali di Sekolah Yayasan Wanita Kereta Api yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Setelah itu, beliau melanjutkan sekolah di SD Negeri Wates 1 Magelang. Selesai dengan pendidikan dasar, beliau melanjutkan sekolah di SMP Negeri 5 Magelang. Meskipun mendapatkan pendidikan formal, beliau tetap mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Kedisiplinan dan sikap tegas beliau dapatkan dari ayahnya yang merupakan seorang tentara. Sementara soal ekonomi dan perdagangan beliau dapatkan langsung dari ibunya yang merupakan seorang pedagang. Bercita-cita untuk bekerja di bank harus pupus saat ibunya menginginkan beliau untuk masuk sekolah kesehatan. Oleh sebab itu, beliau melanjutkan sekolah di Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Ngesti Waluyo, Temanggung. Lulus pada tahun 1990, beliau langsung melanjutkan studi Program Pendidikan Bidan (PPB).




Lulus dari PPB beliau diangkat menjadi PNS. Beliau ditugaskan di sebuah Puskesmas di Wonosobo. Pada 20 Agustus 1994 beliau menikah dengan Robertus Suhadi, seorang distributor yang ditemuinya ketika sedang berada di Jogjakarta. Pada tanggal 21 Februari 1995, mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama Louis Gerrit Sukmajati. Supaya seimbang antara pekerjaan dan mengurus anaknya, beliau rela pulang pergi Magelang-Wonosobo setiap harinya.
Lalu, pada tanggal 3 April 1998 pasangan ini dikarunai anak kedua yang diberi nama Fransiskus Xaverius Linggar Tiasto Rikad. Ketika anaknya yang sulung sudah cukup umur untuk masuk taman kanak-kanak, beliau dan anaknya yang kedua pindah ke Wonosobo dan tinggal di rumah dinas fasilitas dari Pemkab Wonosobo. Sementara anak yang pertama tinggal dan dirawat oleh neneknya di Magelang. Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 20 April 1999 pasangan ini dikaruniai anak yang ketiga. Mereka memberikan nama Anastasia Linda Kristiani padanya. Pengabdian ibu tiga anak ini sungguh luar biasa. Meski bekerja di tempat yang minim transportasi, diluar jam kerja pun beliau tetap membantu warga desa sekitarnya yang membutuhkan bantuan kesehatan meski ditengah malam.
Beliau sangatlah luar biasa. Mengorbankan banyak hal, memberikan segala yang bisa ia lakukan untuk mendukung anak-anaknya. Beliau selalu mengajarkan banyak hal agar ketika anaknya hidup di luar dan jauh dari rumah, anak-anaknya bisa mandiri. Terutama dalam hal-hal yang memerlukan adanya keputusan. Beliau selalu membebaskan anak-anaknya untuk melakukan apa saja asalkan merupakan hal yang positif, membangun, dan dapat dipertanggung jawabkan.

Tugas Teks Berita



Jalan Santai Peringatan HUT Smada


Magelang, Minggu (15/10/2016) SMA Negeri 2 Magelang melaksanakan kegiatan  jalan santai. Kegiatan yang diikuti oleh semua warga sekolah ini dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT Smada ke-37.
Sebelum pelaksanaan jalan santai acara dimulai dengan sambutan dari Kepala SMA Negeri 2 Magelang, Bapak Arief Fauzan Bukhari M.Pd, S.I. Beliau menuturkan bahwa acara yang diadakan tiap tahun ini dapat terlihat antusiasme dari peserta jalan santai terutama siswa/i SMA Negeri 2 Magelang dan diharapkan acara ini berjalan dengan lancar. Selesai memberikan sambutan, acara yang dimulai sejak pukul 06.30 ini dilanjutkan dengan melepaskan balon ke udara. Pelepasan balon ini juga sebagai simbolis dimulainya acara jalan santai. “Rute yang dilewati dalam acara ini adalah melewati gerbang depan kemudian menuju ke arah RST hingga Desa Samban, kemudian kembali lagi dan finish di Smada,” ucap Zaidan, Ketua Osis SMA Negeri 2 Magelang.
Saat gerak jalan santai para siswa terlihat sangat senang dan gembira. Selain itu, mereka tampak menikmati pemandangan sekitar. KelasX, XI, dan XII semua menjadi satu dalam acara itu. "Tidak hanya itu jalan santai juga bisa menyehatkan tubuh kita," ucap Galih, salah satu siswa Smada. Ketika telah sampai di RST para siswa diberi kupon doorprize
Lalu,acara dilanjutkan dengan lomba menghias tumpeng dan penampilan band dari tiap kelas. Dengan disisipi pembacaan pemenang doorprize yamg hadiah utamanya mesin cuci. Tidak hanya para siswa, guru, serta karyawan SMA Negeri 2 Magelang pun juga mendapatkan doorprize.
”Gerak jalan santai ini dijamin akan lebih menarik dan keren lagi tahun depan,” tutur Zaidan, Ketua OSIS SMA Negeri 2 Magelang. Selain itu stand makanan dan minuman disediakan untuk para peserta gerak jalan santai untuk melepas dahaga, tambah Zaidan.